Kamis, 11 April 2013

Keinginan Tersembunyi

Setiap orang pasti punya keinginan, yang orang tahu maupun orang tidak tahu. Ada pula yang lihai menebak keinginan seseorang yang dipendamnya rapat-rapat.

Banyak alasan setiap orang menyembunyikannya, karena malu, karena tidak pede, karena merasa belum mampu, karena merasa kerdil, karena orang lain sering melihatnya kurang, atau sejuta karena yang lain.

Buatmu yang karena malu, mengapa harus malu? Ungkapkan saja apa yang menjadi keinginan kamu, boleh jadi ada orang yang sedang memegang kesempatan itu. Buatmu yang tidak pede, lebih banyak alasan yang membuatmu lebih pede daripada mengerdilkan diri. Buatmu yang merasa belum mampu, boleh jadi kamu memang belum mampu apalagi ada orang yang menilaimu lebih objektif. Tenang saja sob, itu adalah bahan evaluasi dan saatnya momentum perbaikan dan peningkatan kapasitas diri dimulai. Buatmu yang takut omongan orang, orang lain itu baik kamu melakukan sesuatu atau ga ngelakuin sesuatu tetap saja ngomongin kamu, kenapa harus dipikirkan? Berlakulah dan biarlah Alloh yang membimbing.

Jika kamu punya keinginan, sebaiknya memang bercerita pada Alloh. Aku berdo'a untuk setiap muslim yang punya keinginan baik, semoga engkau dimudahkan oleh Alloh... Semangatt ya temans... ;) #ups lupa, masih pake emoticon

Diam-diam orang seperti aku juga punya keinginan terpendam itu :) Allohu a'lam, bisakah aku? Wishing something... :)

posted from Bloggeroid

Selasa, 05 Maret 2013

Harapan Akhir dan Terakhir

Ketika air mata tak sanggup terbendung
Sepanjang hari dan malam terus mengalir
Mengiba diri mencari sesuatu yang hendak dicapai

Saat tangan tak mampu meraihnya
Tak ada pundak tempatku bersandar
Serasa tak sanggup lagi menanggung beban
Hilang arahku berlari

Alloh....
Genggam aku dalam kondisi terendahq....

posted from Bloggeroid

Rabu, 20 Februari 2013

Seberapa Besar pun Luka Itu

Saat berada dalam bahagia,
Harapan itu ada bahkan menyala

Saat merasa terpuruk,
Harapan itu juga masih ada

Saat dalam kondisi optimis,
Harapan itu terlihat nyata

Saat kondisimu pesimis,
Harapan itu tidak hilang

Bahkan saat kau merasa berkhianat, kecewa, tak adil,
Harapan itu selalu menanti untuk diraih esok hari

Seberapapun besar lukamu,
Alloh selalu menanti...

posted from Bloggeroid

Ajariku berdo'a

Alloh...
Usai sujud yang terlalu cepat,
Al-Fatihah yang masih saja terselingi oleh khayalan,
Ruku' yang kadang lupa berdzikirnya,
Hamba terus memanjatkan do'a

Alloh, ajari aku berdo'a
Ajari aku meminta meski aku tahu berdo'a apapun Engkau izinkan
Tapi aku sungguh tak mengetahui do'a yang bagaimana yang Engkau sukai

Sungguh kerdil hati ini
Terlalu sering tidak adil diri ini
Bermohon ampun saat aku butuh
Dan terus meminta hajat yang ingin kuraih

Namun, taubat yang baru beberapa saat terucap sirna ditelan bahagia
Bahagia karena Kau perkenankan do'a
Lalu aku berucap, "Alloh, terima kasih alhamdulillaah.. Aku akan menemui-Mu dengan sepenuh jiwaku saat aku butuh lagi nanti"

Tergesa ku dalam sholat
Terburu ku dalam do'a
Berpura-pura ku lupa tilawah

Alloh...
Ajariku berdo'a
Ajariku beribadah
Ajariku bersyukur
Ajariku untuk mengenal lebih dekat denganmu...

posted from Bloggeroid

Sabtu, 09 Februari 2013

Belajar Mematuhi Hati

Tulisan ini ditujukan untuk diri sendiri dan orang-orang yang mudah gamang. Tidak masalah mengakui diri sebagai seorang yang gamang daripada percaya diri bahwa dia seorang yang tetap hati tetapi sesungguhnya kita adalah sosok yang mudah goyah. Itulah orang yang dalam perumpamaan disebut sebagai orang yang tidak tahu bahwa sesungguhnya dia tidak tahu.

Seberapa sering kita menyusun rencana hidup? Berapa presentase tercapainya poin-poin rencana itu? Tidak ada yang salah untuk orang yang selalu memperbaharui rencana-rencananya.. Tetapi, yang mungkin harus dievaluasi adalah ketika rencana-rencana sebelumnya belum tercapai kemudian kita menggantinya lagi dengan rencana baru, selalu saja seperti itu. Rencana lama belum ada yang tercapai kemudian pindah ke yang baru meskipun capaiannya lebih tinggi, artinya kita telah gagal merencanakan.

Tercapainya target sebelumnya akan membuat langkah kaki kita terus melaju ke depan, rencana menjadi stir langkah dan setiap terminal atau stasiun yang kita lewati adalah tercapainya satu target, setelah itu kita menuju target berikutnya yang lebih tinggi. Kalau kita belum sampai di terminal tujuan kemudian ganti rencana, artinya arah stir kita membelok. Setelah mau mencapai target yang baru, kita sedang berjalan separuhnya membelok lagi dan boleh jadi kita hanya mengintari jalan atau belak-belok dan akhirnya ga sampai-sampai perjalanan kita sampai mati. Janganlah sampai itu terjadi pada diri kita.

Itulah kenapa kita butuh yang namanya sadar untuk mematuhi hati. Hati adalah raja, jika baik rajanya maka baik pulalah rakyatnya. Hati adalah setir, dia menyetir ke kanan maka semua akan mengikuti, dia berbelok maka yang lain tak berdaya meski terus menasehati. Yang kita butuhkan adalah korelasi antara pikiran dan perbuatan yang sama dengan kehendak hati. Hati yang terus menuju Alloh akan berorientasi pada keistiqomahan. Pikiran dan perbuatan harus sejalan dengan kehendak Alloh.

Belajar mematuhi hati, itulah komitmen dan istiqomah... Insya Alloh apapun target kita akan tercapai. Meski belum sampai di target akhir, tapi hati kita puas karena telah berhasil melewati setiap fase yang kita rancang. Allohu a'lam bishowab, semoga Alloh selalu menuntun hati kita menuju keridhoan-Nya... Aamiin

'Jika hati akan dipenuhi oleh cinta dan cita-cita; sedangkan Alloh adalah pemilik cinta dan dakwah adalah cinta, maka hati ini hanya ada Alloh, dakwah dan cita'.

Dimanakah letaknya orang tua, keluarga dan sahabat? Mereka adalah bagian dari karunia Alloh, aku mencintai Alloh agar aku dapat mencintai mereka seperti yang Alloh inginkan bagaimana mencintai mereka.

#dhuha penuh ketenangan
4th room
Nyuci2!! - -"

posted from Bloggeroid


posted from Bloggeroid

Kamis, 24 Januari 2013

Rumput Tetangga Lebih Hijau

Aku, kamu, dia, kita memiliki narasi yang berbeda. Judul novel kita saja sudah berbeda, apalagi dengan isinya. Tidak masalah kadang comot cerita sana, besok comot cerita sini untuk mencari inspirasi dan menyesuaikan keinginan cerita yang kita buat. Yang pasti setiap detik kita sedang menuliskan cerita seru, melanjutkan cerita yang terhenti dan pada saat itu juga kita menjadi peran utama memainkannya.

"Belajarlah dari kehidupan orang lain", itu adalah sebuah kalimat yang oleh dosenku saat itu dibagikan kepada kami. Ya, belajar dari kehidupan orang lain bukan meng-copy paste kehidupan orang lain. Jelas itu tidak mungkin karena kapasitas kita berbeda satu sama lain. Boleh jadi orang lain diberikan rezeki lebih, tetapi untuk kita itu tidak cocok dengan peran. Alloh memberi kita peran seorang yang akan masuk surga dengan kemiskinan dan bahkan dari kemiskinan itu kita mendapatkan banyak kekayaan. Sehingga, kalau kita memaksakan menjadi seorang yang kaya mungkin kita akan tamak dengan harta, lupa diri, lupa Alloh, na'udzubillaah... Jadi, kita hanya butuh belajar dari kehidupan orang lain.

Oh ternyata Chairil Tanjung Si Anak Singkong itu sekarang telah menjadi seorang yang sukses dalam kehidupannya. Apa rahasianya? Dia hanya menjawab, "do'a Ibu" sambil tersenyum. Mengapa beliau bisa menjawab itu? Karena seorang CT telah belajar dari kehidupan teman sebayanya yang dahulu juga miskin. CT bercerita bahwa dahulu dia tidak menyukai kemiskinannya, perlakuan atau sikapnya dengan Ibu juga biasa-biasa saja, nothing special for his mom.

Suatu saat CT bertemu dengan temannya tadi yang kondisinya lebih miskin daripada keluarganya bahkan Ibunya dari sejak dulu sudah lumpuh kakinya. Akan tetapi, bagaimana perasaan temannya tadi? Tidak ada sedikitpun raut wajah yang ketika dia melihatnya ada perasaan sedih atau kecewa dengan kondisinya. Bayangpun, sudah miskin, Ibunya lumpuh, tidak ada Bapak, harus mencari nafkah, tetapi semua kebutuhan Ibunya berhasil ia cukupi. Tidak ada keluhan setiap harinya, kegalauan dan lainnya. Setiap hari selalu look forward and walk in line.

Kondisi itu ternyata tidak berlangsung selama satu atau dua tahun, tetapi 30 tahun. Siapa yang sanggup dengan kondisi itu selama puluhan tahun? Jika Ibunya mau makan, dia memasak. Jika Ibunya ingin mandi, digendongnya sampai ke sungai. Ibunya mau ibadah, digendongnya sampai masjid. Dia harus mencari kayu bakar untuk dijual, mencuci semua pakaian Ibunya dan tidak pernah ada penyesalan dengan kondisinya selama 30 tahun.

Sementara saat itu CT merasa tidak bahagia dengan kemiskinannya dan merasa malu dengan dirinya sendiri. Kalau dibayangkan kan sepertinya Alloh itu sangat kejam. Sudah kurang apa teman sebayanya tadi, bakti dengan orang tua, berdo'a sepanjang waktu, miskin, tetapi tidak berubah juga nasibnya. Bagaimana dengan CT? Keluarga miskin tapi lebih berkecukupan daripada temannya, Ibunya sehat, sikap dengan Ibunya biasa-biasa saja atau cenderung belum sangat memuliakan Ibunya, tetapi minta kepada Alloh untuk segera diberikan rezeki yang lebih.

Itulah yang menginspirasi sosok CT hingga menjadi besar hingga saat ini, meraih kesuksesan dari belajar pada orang lain, memuliakan Ibunya. Dan sekarang teman sebayanya pun lebih kaya (dalam segi materi) daripada CT. Itulah keadilan Alloh, menguji sejauh mana keistiqomahan dia hingga Alloh mengukur sudah pantas mendapatkan 'award' dari-Nya.

Itulah sedikit contoh belajar dari kehidupan orang lain yang diceritakan oleh Bapak dosen saya saat itu. Rasanya nyeseg, menyekat tenggorokan, dan mempertinggi dinding bendungan mata.

Bagaimana dengan kita selama ini? Sering kali kita memicingkan mata dengan kedamaian serta kesuksesan orang lain, tetapi tidak pernah melihat di balik itu semua. Belum lagi benturan masyarakat yang berkata ini itu tentang diri kita, atau bahkan dari kalangan keluarga yang membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain.

Kita seringkali disibukkan dengan perkara yang kurang penting, not focus in our line, tetapi selalu terbayang hasil kesuksesan orang lain. Kuluarga dan masyarakat kemudian manas-manasin orang yang galaunya luar biasa dengan kata-kata yang memang harusnya tidak kita dengar, "Itu lihat anaknya si A dan si B sebaya dengan kamu, sudah bisa ini itu, sudah bekerja di sana di sini, besok udah mau nikah. Kamu masih bla bla bla". Lalu orang yang galau mendengar seperti itu sering kali lupa, "Bukankah tidak masalah rumput tetangga lebih hijau, yang penting buah kita lebih manis". Akhirnya kehilangan arah dan tujuan, jatuhlah dia nanti. Tidak ada yang bisa disalahkan kecuali dia mau belajar dari kehidupan orang lain dan menutup rapat-rapat telinganya dari omongan orang, serta kembali pada planning-planningnya ke depan.

Hal yang wajar menjadi seorang yang galau, terombang-ambing, tetapi yang tidak wajar adalah tidak segera membangun pondasi dalam hati kemudian memulai langkahnya untuk menapaki satu per satu rencana hidupnya. "Eh dia mau menikah lho, eh dia sudah bekerja di instansi A lho gajinya besar, eh dia sudah punya suami kaya anaknya sudah besar dan hanya jadi Ibu rumah tangga saja sudah mampu, eh kamu kuliah lagi ngabisin uang", trus masalah buat gue?? Hidup kog susah banget ya, ngurusin orang lain, itulah kepo.

Ada orang yang sukses dalam hal materi tetapi diuji Alloh dalam hal jodoh, sampai lebih dari usianya belum dikaruniai pasangan hidup. Kita seringkali iba, atau bahkan ikut mencaci (na'udzubillaah), mempermasalahkan, padahal apa yang dia rasakan? Dia sedang merasakan kehidupan yang luar biasa, karunia-karunia besar dari Alloh yang tidak kita rasakan dan tidak kita tahu. Boleh jadi dia merasakan kehidupan yang sangat nikmat dan berkata dengan santun "tidak masalah rumput tetangga lebih hijau, yang penting buah saya lebih manis". Tidak ada perasaan menyesal atau menyalahkan takdir, walk forward saja in line.

Aku belajar banyak dari kehidupan di sekitarku, mendapatkan cerita pahitnya tetapi juga dikasih bonus cerita bagaimana menghadapinya, itu adalah hal yang paling luar biasa dalam hidupnya. Alloh kan mengirimkan seseorang untuk menjadi teman, sahabat, saudara agar kita belajar dari kehidupan mereka, menyiapkan amunisi untuk keistiqomahan menjadi hamba Alloh bagi peran-peran kita ke depan. Ketika kita sakit tidak ada obatnya ada orang yang pernah berbagi cerita, ketika nanti sulit dengan masalah jodoh sudah dapat bekalnya, ketika nanti oleh Alloh diuji tidak memiliki anak sudah ada bekal ceritanya, insya Alloh kita akan ridho dengan kondisi apapun yang akan Alloh berikan. Jika ada yang mencaci, katakan saja dalam diri sendiri "gapapa rumput tetangga lebih hijau, yang penting buahq terasa lebih manis". Ketika kita diuji oleh fitnah di masyarakat boleh jadi hingga kita meninggalpun masyarakat masih mencibir dan membuat fitnah semakin merebak, tetapi urusan klarifikasi sudah ada dalam genggaman Alloh. Masyarakat sibuk berbuat dosa, kita sudah sibuk menikmati buah manis di dalam nikmat alam kubur. Indah kan.... :)

#1st room
Menyempatkan bercerita sebelum pulang
Terima kasih Bapak untuk ceritanya, terima kasih untuk orang-orang hebat yang sudah berbagi cerita denganku.. :)
Gapapa orang lain bahagia dengan kehidupannya, itu adalah award dari Alloh, yang penting kita merasa nikmat dengan kehidupan kita sendiri.

-Alangkah beruntungnya seorang muslim itu, jika dia mendapat nikmat maka dia bersyukur dan jika dia mendapat musibah maka dia bersabar-. Dan kembali kepada Alloh adalah lebih baik dari segalanya...

Love is the greatest blessing, thank you for your love..
Masih ada satu cinta yang belum aku katakan pada seseorang, nantilah di surga insya Alloh :)

posted from Bloggeroid

Selasa, 22 Januari 2013

Mengapa Harus Bersyukur?

Scene I:
"Mak, sik iki yo.." kata anak perempuan kecil itu pada Ibunya. "aku si iki yo mak..." kata mas-nya si anak perempuan tadi. Ibunya masih diam bergeming sambil melihat makanan yang lain. Lama Ibunya tidak merespon, akhirnya si sulung menyadari dan mengambil pilihan lain, "yo wis sik iki wae mak, regane sewu lho..." sambil berkata menyerah.

Melihat kakaknya, anak perempuan itu ikut mencari pilihan lain, "aku iki wae mak, iki regane sewu yo'an..." rengek si bungsu. Si Ibu tetap diam, aku yang di sampingnya mengambil kopi tidak jadi beranjak. Aku menoleh dan Ibunya juga menoleh, aku palingkan wajah dan pura-pura masa bodo agar tidak merasa dilihat. Akhirnya si Ibu melihat pilihan anak-anaknya sambil melihat harga dan mencari yang lain. Anak sulung menyadari snack seharga seribu terlalu mahal dan menunggu Ibunya memilih. Akhirnya tepat pilihan Ibunya dan bungsu mengambil pilihan itu, "yo wis ra popo regane nem-atus". Deg, rasanya nyeseg.. Dan bungsu pun tetap pada pendiriannya meminta snack seharga seribu, saya pikir itu hal yang biasa untuk anak bungsu yang kadang memaksakan kehendak dan orang-orang sering mengatakan 'manja'.

Ya Alloh, sering kali aku mengeluh atau merasa kekurangan, padahal rezeki yang Engkau berikan selalu tepat sesuai ukuran. Anak kecil itu mungkin masih merasa tidak adil ketika mereka selalu melihat televisi dengan suguhan makanan anak-anak yang menggoda tetapi mereka harus menahan nafsu mereka karena kondisi keuangan orang tua. Tidak salah kan Ibu itu? :) Tidak mungkin pula aku langsung mengambil pilihan mereka untuk dibayar, meskipun kalau dua atau lima ribu untuk mereka masih mampu insya Alloh..

Akhirnya aku berlalu pergi meninggalkan mereka dalam perdebatan memilih makanan ringan. Ayah mereka menunggu di rumah untuk melihat belanjaan mereka dan merasa bangga dapat membelikan barang dan makanan untuk keluarga. Sang ayah pasti juga menyadari bahwa dia belum mampu membelikan sesuatu yang membahagiakan anak-anaknya. Tapi, dia cukup bersyukur memiliki istri yang lihai mengatur keuangan rumah tangga.

Scene II:
Entah kapan saat itu, mungkin saat aku masih SMA. Cuaca udara sangat panas dan seperti biasa aku beli es campur di depan rumah. Aku bukan orang yang mudah makan apapun alias milih-milih makanan, sudah sejak kecil. Saat itu Ibu masak sayur apa gitu yang aku tidak terlalu suka dan 'hanya' dengan lauk tempe sisa jualan. "Bu, kog sayure niki meleh, lawuh liyane mboten wonten tho?" tanyaku dan jujur agak kesal saat itu.

Ibu membuka percakapan dengan menjawab, "Kuwi wae kudu mbok syukuri wi..wi... Wong Jati (Jati nama salah satu daerah di tempatku) kae lho tuku tempe saben dino gur sewu". Seribu tempe saat itu dapat tujuh bungkus kecil tempe kalau tidak salah. "Aku takon, 'kog aben dino tuku tempe sewu tho nduk? Jangane opo?'". Masih dalam kata-kata Ibuku bilang, "Lha nggih tempe niku Buk mpun dadi jangan kaliyan lawuh. Mengke dimasak oseng tempe, pun dingge lawuh kaliyan jangan. Yen ngono kuwi piye nduk?".

Aku terdiam dalam pikir, sambil makan yang memang aku tidak terlalu suka sayurnya. Hanya saja Alloh kasih aku lagi kesempatan untuk bersyukur. Alhamdulillaah...

Kesederhanaan ini sering kali membuat hati tenang...

Terima kasih Bapak Ibu. Tak mampu mengukur cinta ini karena keinfinitannya... :)
#1st room, kamar bocor harus ngungsi, bersyukur....
posted from Bloggeroid