Jumat, 15 Juli 2011

Pilih Akhir Yang Mana?


“Kullu nafsin dzãikatul mauut..tsumma ilainaa turja’uun”, setiap jiwa akan merasai mati, hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. Kematian bisa mendatangi kita kapan saja, tanpa ada pemberitahuan apalagi penangguhan. Sedang apakah kita pada saat itu? Di tempat manakah nyawa kita akan dicabut Izrail, di masjid, kampus, atau di mall?

Saat nyawa dicabut perlahan-lahan dengan ruh kita dipegang di ubun-ubun, saat itulah kita berada dalam kondisi di alam bawah sadar. Bagaimana kondisi bawah sadar itu? Analoginya adalah saat kita tidur. Sering kita kedatangan mimpi atau sering orang menyebutnya bunga tidur, entah kenapa disebut sebagai bunga padahal jika mimpi itu ternyata mimpi buruk, masih pantaskah disebut sebagai bunga? Hmm, kayaknya terlalu indah sebutannya. Tidak perlu diperpanjang, kita kembali ke pokok pembicaraan. Mimpi terjadi di alam bawah sadar kita dan topik mimpi akan mengikuti hal-hal yang sedang kita pikirkan, hal yang kita senangi dan biasanya kebiasaan yang kita lakukan saat kita berada di alam sadar. Begitulah deskripsi sederhana tentang kondisi alam bawah sadar.

Ada satu hal penting yang perlu kita garis bawahi bahwa alam sadar kita akan bekerja sesuai dengan apa yang paling kita senangi selama kita menjalani hidup. Jika itu yang terjadi, boleh saya mengatakan bahwa hal yang kita senangi sekarang ini adalah gambaran kondisi sakaratul maut kita. Jika seseorang senang jalan-jalan ke mal, boleh jadi ia akan meninggal di mal. Atau suka nge-game, boleh jadi ia akan meninggal saat nge-game apalagi pas kalah tanding, ckckck apes... Atau terlalu hobi dengan facebook-an, nonton TV, nonton bola semaleman, liat sinetron ‘n gosip tanpa mengenal waktu, tidak menutup kemungkinan nyawa dicabut pada saat ia menikmati hobi-hobi itu. Buat yang cinta membaca Alqur’an, rajin shalat dan menunggu-nunggu waktu shalat, banyak orang-orang shalih yang dicabut nyawanya saat ia beribadah, thalabul ‘ilmi atau sedang berdakwah.


Akhir Yang Baik

Saat itu adik masih terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Wajahnya semakin pucat, tetapi nyala semangatnya masih tetap hidup. Leukimia telah merenggut tubuhnya hingga kurus dan kulitnya penuh bercak - bercak, putih pucat pasi. Aku dan ibu selalu menunggunya setiap hari, bolak - balik kampus - rumah sakit tidak membuatku merasa capek. Aku selalu menemani dan selalu ingin mengajaknya bercanda karena aku tidak ingin melihatnya sedih. Pagi itu tiba - tiba dia berkata dengan penuh semangat, “Kakak - kakak cepat ambil kameranya, ayo ambil foto tamannya. Di depan ada pemandangan yang sangat indah, ada taman, bunga - bunga dan kupu – kupu yang sangat cantik. Ayo kak cepat ambil kameranya, aku ga mau kehilangan gambarnya”. Tiba - tiba dia menjadi panik karena takut kehilangan pemandangan yang dilihatnya.

Kita yang suka dan sering bercanda, maka aku bilang, “Dek, di depan ga ada taman, kita masih ada di kamar rumah sakit. Ayo dek tenang, kamu sedang sakit”. “Enggak kak, enggak... di depanku masih ada taman yang sangat indah dan aku berjalan menuju ke sana. Ayo kak ambil kameranya” kata dia merengek. Aku yang melihatnya kebingungan dan segera mengambil kamera. Ibu dengan tenang dan sedikit terisak berkata, “Kak tenanglah, sesungguhnya adik sedang dalam kondisi sakaratul maut. Dia telah melihat surga, yuk kita membaca surat yasin dan menuntunnya untuk mengucapkan syahadat”. Kata - kata ibu sontak membuatku kaget dan menangis. Mendengar perkataan ibu, adik terdiam dan sangat tenang... Ia menyadarkan diri dan terus berdzikir kepada Alloh. Aku dan ibu membaca surat yasin dengan menangis dan menuntun adik hingga berucap kalimat syahadat di akhir hidupnya.

Itu sekelumit cerita dari ustadz Syatori tentang akhir hidup yang baik. Subhanallah dia meninggalkan dunia dengan saat indah, melihat surga sebelum dia memasukinya. Saat ditanyakan kepada kakaknya, “Apa yang membuat adikmu mendapatkan khusnul khatimah?”. Sang kakak menjawab, “Adikku adalah orang yang paling bawel untuk masalah kemaksiatan. Saat itu jilbabku pendek dan dia terus memberi tahuku sampai aku mengenakan jilbab yang syar’i. Saat ada orang yang melakukan kemaksiatan, maka dia akan terus mengingatkannya”. Subhanallah ya... Sayang saat itu saya ga ngrekam kajiannya, jadi kalau lewat tulisan mungkin kurang terasa menyentuh...

Satu lagi cerita, dia masih SMA saat itu. Saya lupa adiknya sakit apa, tetapi sudah sejak lama dia dirawat di rumah sakit. Pagi itu dia merengek – rengek kepada ibunya untuk shalat dhuha dan berwudhu, padahal oleh dokter sudah dikabarkan bahwa kesehatannya semakin menurun. “Udah dek tayamum aja, kamu kan sedang sakit. Gak papa mau shalat tapi tayamum aja ya.. Kata dokter ga boleh menyentuh air karena adik sedang tidak sehat” kata ibunya pelan dan terus mencegahnya. “Engga bu, aku masih kuat, aku pengen shalat dhuha tapi aku mau wudhu dengan air secara sempurna. Aku kuat...” katanya. Karena terus merengek, maka ibu pun tak kuasa lagi untuk mencegahnya. Dituntunlah anaknya menuju kamar mandi dan berwudhu dengan sempurna. Setelah itu kembali ke ranjang, mengenakan mukena, dan shalat dhuha secara sempurna pula. Saat dia sedang shalat, ternyata teman - teman dekat sekelasnya datang untuk menjenguknya. Usai shalat dia melihat satu per satu orang yang sangat ia sayangi seperti ia mau meninggalkan mereka. Setelah beberapa lama, maka sang anak mengucapkan dua kalimat syahadat dan menutup akhir hidupnya dengan kondisi suci berwudhu dan shalat dhuha serta didampingi oleh orang - orang yang ia sayangi. Subhanallah....


Akhir Yang Tidak Baik

Dia adalah penggila harta dan dunia. Hidupnya hanya untuk mencari uang dan terus mencarinya. Sedekah tidak ia keluarkan karena setiap waktu selalu ada target dunia yang dia buat. Awalnya mungkin ingin membeli dari hal - hal yang kecil, tetapi lama kelamaan dunia terus mengejarnya. Hingga hari tuanya ia ingin membuat sebuah rumah yang sangat mewah, akhirnya dengan kerja keras dan ke’pelit’annya ia mampu membuat sebuah rumah yang sangat megah layaknya istana. Setiap orang yang datang pasti sangat kagum melihatnya. Saat itu rumah belum ditempati dan kakek tua itu baru akan menempatinya. Sesampainya di depan rumah dengan diantar sebuah mobil yang mewah pula, tiba - tiba ia terjatuh tanda sedang sakaratul maut. Tahukah apa yang ia katakan? Bukan kalimat syahadat, bukan menyebut Alloh ataupun berdzikir. Ia hanya mengatakan, “rumahku..rumahku...rumahku..” terus berulang - ulang sampai akhirnya dia meninggal dengan tidak rela meninggalkan dunianya. Na’udzubillahimindzalik....

Itulah cerita yang semoga menginspirasi dan memotivasi kita dalam kebaikan. Untuk mereka yang berada dalam khusnul khatimah, mereka bukan para nabi dan rasul, bukan pula para shahabat dan shahabiyah. Mereka adalah orang - orang yang tinggalnya di sekitar kita dan ada di masa kita. Usia keduanya masih sangat muda. Mereka memiliki amalan - amalan yang istimewa, mereka teguh dalam memegang prinsip untuk tidak mau bermaksiat dan selalu menjaga kesucian diri dengan air wudhu dan istiqamah terus dalam menjaga shalat dhuha. Surga itu sangat banyak pintunya, bisa dilalui dengan menjaga wudhu, lidah, shalat wajib, shalat sunnah, shaum sunnah, tilawah, dan segala macam kebaikan yang kita terus menjalaninya secara konsisten. Harga keistiqamahan itu sangat mahal dan mungkin tak bisa kita beli. Ia hanya bisa kita minta kepada Alloh agar Alloh menjaga kita di setiap tempat dan setiap waktu. Semoga keistiqamahan dalam kebaikan selalu menaungi kita hingga akhir hayat dan semoga kita senantiasa terhindar dari hal - hal maksiat dan jiwa keduniawian. Amiin ya Alloh, lindungilah kami...

Jazaakumullahu khairan katsir.. Barakallohu fikum...

Pondok Nabila, 6.59
*Tadinya hanya melihat - lihat file yang tersimpan dan menemukan file ini belum rampung digarap, akhirnya tertarik untuk menyelesaikannya dengan cerita ustadz yang masih ada di dalam ingatan. Allohu a’lam..

Kamis, 14 Juli 2011

Shahabat Pemilik Fitrah Shaffiyah

 Sore itu kajian Ustadz Syatori benar - benar membuat hati menjelajah pada masa Rasulullah, membuat hati semakin malu. Waktu itu sedang menafsirkan Qs. An-Nur: 35 yang secara sekilas ditafsirkan bahwa untuk mendapatkan Cahaya Di Atas Cahaya, maka kita harus memiliki Fitrah Shaffiyah dan 'Ilmu Syar'iyah. What's the meaning of Fitrah Shaffiyah? Yaitu, fitrah (kekuatan Rabbani yang Alloh simpan di lubuk hati manusia sejak lahir) yang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk. Untuk lebih bisa memahami terkait fitrah shaffiyah, ustadz Syatori memberi contoh kisah Shahabat yang begitu membuat bulu kuduk berdiri (hmm.. lebay ga ya? ^^).

Suatu hari ketika Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam berjalan di kota Madinah beliau berpapasan dengan seorang sahabat yang bernama Haritsah bin Suraqoh.

Kemudian Rasulullah SAW bertanya kepadanya, "Wahai Haritsah bagaimana keadaanmu di pagi hari ini?".

Haritsah menjawab, "Ya Rasulallah aku di pagi hari ini telah mencapai hakekat keimanan"

Ketika mendengar jawaban tersebut Rasul pun berkata kepadanya: "Ya Haritsah segala sesuatu ada buktinya, dan mana bukti dari hakekat imananmu?". [Mengatakan keimanan kan butuh bukti.. Keimanan Shahabat saja sama Rasulullah masih dibuktikan, apalagi kita... hmmm...jadi malu sendiri]

Maka berkata Haritsah: "Ya Rasulallah telah keluar dari hatiku cinta kepada dunia sehingga emas dan batu sama nilainya di mataku. Ya Rasulullah seakan-akan 'Arsy Tuhanku sangat jelas terlihat dihadapanku, seakan-akan penghuni surga mendapatkan nikmat di surga dan sangat jelas dihadapanku, dan seakan-akan penghuni neraka di neraka mendapatkan azab di neraka sangat jelas di hadapan mataku. Ya Rasulallah di malam hari aku bergadang (bermunajat) dan di siang hari aku berpuasa".


Ketika Rasulullah mendengar jawaban Haritsah, beliau berkata, "(Engkau adalah) hamba Allah yang telah memperoleh cahaya di hatimu. Ya Haritsah engkau telah mengetahui maka lazimilah".

Maka Haritsah berkata kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah doakan aku, aku ingin mati syahid di jalan Allah". Maka Rasul-pun mendoakan agar Haritsah mati syahid di jalan Allah.

Dan kebetulan di hari itu Rasulullah dan para sahabat keluar dari kota Madinah untuk memerangi orang kafir Quraiys di perang Badr yang jumlah tentara orang kafir lebih dari 950 prajurit sedangkan tentara Rasulullah hanyalah 300an prajurit dan persenjataannya sangat sedikit sekali dan terbatas. Akan tetapi kemenangan dari Allah diberikan kepada Rasulullah dan para sahabat.

Sehingga diriwayatkan bahwa yang terbunuh dari orang orang kafir 70 prajurit, dan yang tertawan 70 prajurit. Adapun yang mati syahid dari kaum muslimin hanyalah 14 sahabat dan diantara mereka adalah Haritsah bin Suraqoh.

Pada saat Haritsah sudah syahid, salah seorang shahabat Rasulullah pun segera menemu ibu Haritsah. Keimanan sang ibu tak jauh dari anaknya. Saat diberi tahu bahwa anaknya mati syahid, maka yang ditanyakan bukanlah kondisi anaknya terlebih dahulu, tetapi beliau menanyakan kabar Rasulullah. "Bagaimana kondisi Rasulullah sekarang" tanya ibu Haritsah kepada shahabat tersebut. "Rasulullah baik - baik saja dan selamat" jawabnya. "Antarlah aku menemui Rasulullah untuk memastikannya" pinta sang ibu.

Maka bertemu dengan Rasulullah barulah sang ibu bertanya kondisi anaknya, "Ya Rasulullah dimana anakku Haritsah?".

Maka dijawab oleh Rasulullah: "Wahai ibu Haritsah sabarlah sesunggahnya anakmu terbunuh dijalan Allah".

Maka diulangi pertanyaan tersebut oleh ibu Haritsah kepada Rasulullah. Dan dijawab oleh Rasul dengan jawaban yang serupa. Lantas di ulangilah untuk ketiga kalinya pertanyaan tersebut oleh ibu Haritsah dengan menanyakan: "Ya Rasulullah aku tahu kalau anakku terbunuh di jalan Allah, akan tetapi dimanakah anakku apakah di surga atau di neraka?".

Maka Rasulullah menjawab: " Wahai ibu Haritsah apakah kau tidak tahu? Sesungguhnya surga itu bukanlah hanya satu surga, akan tetapi surga itu banyak sekali tingkatannya. Dan sesungguhnya anakmu telah mencapai surga Firdaus yang paling tinggi".

Kemudian ibu Haritsah tersenyum, "Sungguh jika anakku berada di dalam neraka, maka aku akan menangis sepanjang hidupku. Wahai beruntungnya engkau Haritsah..  Wahai beruntungnya engkau Haritsah..  Wahai beruntungnya engkau Haritsah.. "

Subhanallah ya.. Pengen jadi  seperti Haritsah dan ibunya... ^^ Semoga Alloh berkenan memberikan kita fitrah shaffiyah.. amiiin

-Ya Alloh berilah kami berkah dan taufiq di bulan Sya'bah, dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan..."

sumber: cerita ustadz dan suaramedia.com

Rabu, 06 Juli 2011

Semua Tentang Cinta Untuk-Mu...

Entah kapan aku mengerti akan cinta..
Namun, aku telah mengenalnya sejak lama
Sebelum aku melihat dunia
Sejak Allah meniupkan ruh dan memberiku hidup
Sejak saat itulah aku dikenalkan cinta...

Dalam diam, aku memahaminya..
Dalam hening, aku merasakannya..
Namun, dalam lalai aku melupakannya..
Masalahnya..
Lalai itu tidak satu atau dua kali
Tapi, sering kali dan bahkan terlalu sering...

Allah...
Dalam gundahku Engkau merengkuhku
Dalam tangisku Engkau mengusapku
Dalam bahagiaku Engkau tersenyum padaku
Dalam lupaku Engkau masih memanggilku

Ini segalanya tentang cinta-Mu..
Yang tidak bertepi karena Engkau abadi
Yang tidak mengharap karena hamba-Mu yang berharap
Meski aku tak pernah memberi sepenuhnya air mataku
Tak selalu mengingatMu di setiap waktu
Namun, cinta-Mu begitu terasa saat aku terpuruk
Saat aku penuh harap, saat aku merasa sendiri...

Aku tulis rencana hidupku
Namun, Engkau telah menghapusnya
Bukan memupuskan mimpiku
Tapi, menulisnya dengan rencana-Mu yang sangat indah...
[rdm]


-ungkapan sederhana-
*dalam rengkuhan syukur atas pertolongan-Nya
waktu dhuha yang membuatku tersenyum lega..
FMIPA Utara

Selasa, 05 Juli 2011

~ Qadhaya Asasiyah Fiid Da’wah ~

Ini sebenarnya akan digunakan untuk proyek buletin yang dikerjain bareng temen - temen, tapi ya sudahlah saya posting saja.. Untuk obat kelelahan.. :D Jadi, nanti kalau ketemu dengan buletin yang tersebar di kawasan kampus dan kembali membacanya, semoga memperdalam keilmuannya... :)

Tutur tokoh ini menghadirkan beberapa tangkai pesan ustadz Abu Ridho saat berkunjung ke Masjid Kampus UGM dalam kajian akbar beberapa waktu yang lalu. Bagi seorang kader dakwah, bahasan ‘Qadhaya Asasiyah Fiid Da’wah’ hampir sering terdengar dan membahasnya, yaitu isu – isu dakwah yang mendasar. Inilah kebutuhan dan kepentingan kita sebagai muslim dan sebagai seorang da’i.
Sebelum jauh kita membahas terkait qadhaya asasiyah dakwah, kita akan memulainya dengan bahasan perjalanan penciptaan manusia, dimana oleh para filosof islam dilukiskan sebagai era non eksistensi, yaitu ketika kita belum ada wujudnya, tetapi Alloh telah mendesain kita menjadi ‘manusia’. Pada masa itu kita ditanya oleh Alloh, “Bukankah Aku ini Rabb-mu?”. Semua menjawab, “Benar, dan kami menyaksikannya”. Dari sekelumit dialog tersebut, kita dapat menarik kesimpulan bahwa iman itu sesungguhnya melekat dalam diri manusia sejak masa penciptaannya. Secara fitrah manusia telah berikrar bahwa ia percaya kepada Alloh, bertuhan dan bersyahadat. Jika dalam perjalanannya banyak yang menyimpang, maka hal itu merupakan bagian dari proses perjalanan. Demikian Alloh menjelaskan kepada kita bahwa iman itu adalah sesuatu yang fitri.
Babak penciptaan selanjutnya adalah konsekuensi pengakuan Alloh sebagai Rabb, yaitu implikasi iman. Artinya, pembebanan atas pembenaran yang berkaitan dengan pernyataan syahadat. Gambaran sederhananya jika kita sudah memilih, mengakui, bahkan melantik si A sebagai kepala negara, maka ada konsekuensi pembebanan terhadap kita, antara lain segala peraturan yang ia buat harus kita taati. Demikian pula berlaku pada Alloh sebagai kepala negara bumi dan langit beserta seluruh isinya, dimana kita semua merupakan makhluk mukallaf atau mahluk yang terbebani.
‘Beban’ apa yang dimaksud di sini? Beban itu termaktub di dalam alqur’an dimana Alloh berfirman, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” (Qs. Al Baqarah: 30). Itulah beban kita, beban yang pernah ditawarkan kepada gunung, langit, bahkan para malaikat. Semua menolaknya, tetapi kita dengan penuh keyakinan menerimanya.
Dari sepanjang perjalanan penciptaan manusia tersebut dapat kita tarik benang merah bahwa amanah manusia itu ada dua macam, yaitu amanah ibadah dan amanah risalah. Amanah ibadah adalah konsekuensi penghambaan diri kita kepada Alloh. “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. Sedangkan, amanah risalah adalah posisi kita sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi atau membangun peradaban manusia.
Dua amanah itulah yang sesungguhnya menjadi qadhaya asasiyah di dalam dakwah. Intinya adalah tegaknya kalimat Laa ilaha illallah atau memakmurkan muka bumi ini dengan syari’at Alloh. Jadi, apapun yang kita anjurkan, ajarkan, dan perjuangkan itu adalah membentuk manusia - manusia yang mampu memikul dua amanah, amanah beribadah dengan baik dan juga amanah berkontribusi membangun  peradaban dengan baik. Qadhaya asasiyah harus menjadi prioritas dakwah sampai kapanpun, sehingga isu – isu selainnya hanyalah penunjang perangkat utama kita.
Mengapa kalimat tauhid menjadi qadhaya asasiyah dalam dakwah? Tidak lain dan tidaklah bukan karena sering kali kita belum tuntas atau kecolongan dalam hal keimanan, syahadat, dan tauhid di berbagai sektor. Tidak perlu jauh – jauh kita mengambil contoh, jika kita sedang sakit atau menderita sekali atau terancam bahaya, maka dalam kondisi itu kita merasakan kehadiran Alloh yang sangat dekat. Namun, jika kita sudah sembuh, bahagia, dan terlepas dari bahaya, maka seringkali kita merasa biasa - biasa saja dan bahkan kurang merasakan kehadiran Alloh. Inilah ironi – ironi yang masih banyak kita jumpai di kalangan manusia, terlebih di zaman modern ini sering kali kita merasa yang paling kuat dengan dalil - dalil ilmu. Isu sentral dakwah inilah yang harus selalu menjadi dasar pijakan kita untuk diprioritaskan dalam mengajak orang - orang memahami dan mendalami segala konsekuensi makna syahadat.
Oleh karena itu, isu mendasar kalimat tauhid tidak bisa ditinggalkan dan harus menjadi mainstream tugas dakwah di sektor manapun. Dalam bahasa lain, tugas utama kita dalam dakwah serta tugas yang sudah kita sepakati dalam ikrar kita kepada Alloh adalah tegaknya tauhid dan semua berakar kepadanya. Karena dari hal mendasar inilah yang akan memberikan efek pada kiprah - kiprah dakwah yang selalu lekat dengan tauhid. [rdm]

-pondok Nabila-
tengah malam hingga tengah hari karena idealisme dalam menulis
-___-" tinggal 1,5 watt...

Kamis, 10 Juni 2010

Mengukur Kedewasaan

Kehidupan ini sungguh unik. Semua oleh Allah diciptakan secara seimbang. Kesenangan, kesedihan, kemenangan, kekalahan, keberhasilan, kesuksesan, semua orang pasti telah merasakannya. Semua berputar secara sadar ataupun tidak.

Tidaklah sesuatu yang berputar itu kecuali cobaan bagi manusia, untuk mengetahui siapa yang beriman dan siapa yang kafir, siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur. Inilah cara Allah meningkatkan kapasitas keimanan hamba-Nya. Semuanya bermula sama, seiring bergulirnya waktu, manusia itu sendirilah yang akan memilih jalannya sendiri, apakah Ia akan menapaki jalan-Nya ataukah ia akan menapaki jalan bayangan yang dibuat syetan. Untuk memilih dua ini, hanyalah butuh iman untuk menunjukkannya, kesadaran akan nikmat Allah dan upaya diri untuk selalu bersyukur.

Satu hal yang membuat manusia mengelak atas nikmat Allah yang telah diberikan, yaitu kesombongan. Ya, itulah sifat syetan yang telah menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam jurang neraka yang sangat dalam. Lalu, secara sadar ataupun tidak, entah kapan itu, barangkali kita juga sudah lupa, pernah gag sih ngerasa lupa untuk bersyukur? Sering, atau kadang-kadang, atau satu dua kali, atau tidak sama sekali. Tidak sama sekali itu lupa atau terlupakan?

Dalam setiap harinya, Rasulullah selalu bertaubat, beristighfar, memohon ampun kepada Allah, sebanyak minimal 70 kali. Rupanya jumlah yang cukup membuat kita tercengang dan malu. Entah karena kita hanya sering menengadahkan tangan, merintih dan meminta untuk selalu memenuhi keinginan kita (ingat, keinginan bukan kebutuhan), dan kita lupa untuk beristighfar. Atau kita menyadari bahwa Rasulullah itu lho telah dijamin surga, selalu dipantau oleh Allah, dan langsung ditegur oleh Allah jika hendak melakukan kesalahan, bertaubat saja minimal 70 kali. Kita? hehe, setiap kali berbuat dosa hanya bisa nyengir atau seringnya innocent. Ckckck, wajah yang terlalu polos...

Nah, bahasan di atas baru sekedar pengantar.. Hehehe.. ^^V
Kali ini saya akan coba-coba asal jadi untuk merefleksikan diri akan selama ini yang telah dilalui (halaahhh). Yang pasti, kepala dua telah banyak hal yang dilalui, segala perputaran peristiwa yang telah dibahas di atas pun pernah dirasakan. Tetapi, seringnya merasa bahwa diri ini tidaklah cukup dewasa untuk memaknai semua hal yang terjadi. Entah dalam mengambil keputusan dan tindakan, atau hanya sekedar berpikir dewasa pun rasanya sulit. Umur tidak menentukan kedewasaan tiap orang, tetapi kewajaran diukur dari sana. Maksud saya, jika ada seorang yang lebih berumur itu lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap daripada yang muda, maka itu wajar. Gimana kalau sebaliknya? Nah lho, kalau sebaliknya pasti jawabannya 'tidak wajar'. Karena secara teori lidahnya sudah sangat pahit akibat sudah terlalu banyak menelan asam garam kehidupan, katanya sih... Tetapi, sepertinya kita pun sepakat bahwa kita sudah menyadari kog kalau orang yang lebih tua itu belum tentu lebih dewasa dari yang muda.

Kalau untuk diri saya sendiri, sangat sadar dan menyadari bahwa apa yang sering dilakukan ya belum sepenuhnya dipikirkan matang-matang. Sering berupa ketergesa-gesaan dan sering pula melakukan hal-hal yang sia-sia. Waktu yang kita miliki kan hanya 24 jam, sedangkan kerjaan yang harus kita selesaikan itu lebih dari waktu yang kita punya. Tetapi, kesan manja meminta waktu untuk bersantai, kekanak-kanakan meminta pengertian orang lain saat kerjaan gag beres, atau atas nama merenung dan muhasabah akhirnya memikirkan hal yang sebenernya gag penting.

Trus, pernah gag sih kita berpikir pengen mengurangi ketidakwajaran yang terjadi di tengah-tengah kehidupan kita. Kan banyak tuh yang berpikir praktis dan akibatnya sikap yang diambil pun lebih mempersulit diri sendiri. Mulai dari sini kita akan bicara bagaimana mengubah pola pikir bangsa kita untuk mendewasakan diri. Percaya deh gag akan ada pengangguran, gag akan ada korupsi dan gag akan ada tuh sampah yang berserakan di jalan. Why and why? Ya iya dong, orang yang nganggur itu kan orang yang putus asa, orang yang korupsi jelas dia berpikir kekanak-kanakan, orang yang buang sampah sembarangan seperti seorang bayi yang masih dalam buaian ibu (belum tahu yang baik dan yang buruk).

Kedewasaan itu terbentuk saat di hati kita hanya ada iman. Segala sesuatu yang kita lakukan hanya untuk Allah dan kita menyadari sepenuhnya bahwa Allah selalu melihat kita. Saat hati kita bersih dan bersinar oleh iman, maka apa yang kita lihat, ucapkan dan keputusan yang diambil, semuanya berdasarkan bashirah (mata hati). Apa sih sebenernya arti kedewasaan itu?

Bolehkah saya definisikan secara mudahnya seperti ini: Orang dewasa itu gag gampang marah, berpikir objektif, tenang dalam sikap, tepat dalam mengambil keputusan, sabar, pemaaf, senantiasa bersyukur, peka hati, bebas dari penyakit hati (gag ada tuh iri, dengki, sombong de el el), gag pernah berprasangka (selalu berhuznudzon), menginspirasi dan sejuk kalau dipandang (sampai-sampai orang yang lagi banyak masalah, melihatnya pun seolah-olah masalahnya sudah selesai). Lalu, siapa yang akan bisa menjadi seperti itu kalau bukan orang yang mempunyai bashirah? Tahukah engkau? Karena, saat dia memandang, mendengar, melangkah, Ia senantiasa dibimbing oleh Allah. Dia telah memilih Allah untuk menjadi satu-satunya penolong, satu-satunya Dzat yang akan memandang apa yang telah ia lakukan dan satu-satunya Dzat yang mendengarkan segala keluh kesahnya. Semarah apapun, ia kembali kepada Allah, meluapkan marahnya dalam sepi, menerjemahkan kemarahannya dalam air mata, dan semuanya akan kembali seperti semula.

Sedikit saya mau cerita tentang kemarahan. Ada seorang yang bercerita, sebut saja namanya mba Septi (nama samaran, hehe gag tau kog dapat nama Septi). Dia pernah bercerita, saat itu keluarganya dan dia sendiri sedang didzalimi oleh seseorang, keputusan yang diambil oleh orang itu sangat memojokkan dan mempersulit keluarganya. Secara jelas orang itu di hadapannya, duduk satu meter di dekatnya. Ada alasan untuk marah, sangat ada, bahkan Allah pun telah berfirman kalau ada orang yang mendzalimimu maka engkau boleh membalasnya. Tapi, jika kita berhenti di ayat itu saja tanpa melanjutkan terusan ayatnya, maka ya bolehlah mba Septi menamparnya dan mengusir dari rumahnya. Dengan darah yang sudah mendidih, nafas yang naik turun tidak karuan, ia berusaha melanjutkan ayat tersebut, "tetapi jika engkau memaafkan maka itu lebih baik bagimu". Kemudian ia ingat sabda Rasulullah, "Jika engkau marah maka ubahlah posisimu". Akhirnya mba Septi pun yang semula duduk, berdiri dan berjalan tanpa arah, masih belum bisa menahan marah akhirnya berbaring. Rupanya tidak cukup untuk menahan kemarahan, akhirnya beliau berniat mengambil air wudhu karena inipun perintah Rasulullah. Sampai wudhu pun beliau tidak mampu menahan amarahnya. Lalu, apa yang beliau lakukan. Beliau mandi dan ia luapkan kemarahannya dengan setiap guyuran air. Karena marah itu dari syetan dan syetan itu dari api, sedangkan api hanya dapat dipadamkan dengan air.

Masya Allah ya, ada orang-orang yang berpikir untuk apa marah, padahal dia sendiri punya alasan untuk marah. Menahan marah adalah bagian dari kedewasaan. Dewasa adalah sebuah pilihan, ia didasari oleh keimanan dan kesyukuran. Gimana kabarmu sekarang?? ^^

Semoga bermanfaat...
Salam Jihad dan Dakwah!!

Jum'at yang suci, pondok Nabila, Yogyakarta

Selasa, 08 Juni 2010

Tulisan Santi Soekanto sebelum Mavi Marmara digiring Israel

Sebuah renungan mendalam... Ngapain sih berjuang kalau hanya dapat capek? Ngapain sok jadi pahlawan kalau hanya butuh label? Ya Allah, teguran manis dari-Mu tidak pernah qhiraukan... Mungkinkah Engkau akan memberikan teguran yang begitu keras hingga aku baru menyadarinya... Jika itu cara yang membuat kami sadar, jangan pernah Engkau bosan mengingatkan kami.


Santi Soekanto (istri dari Dzikrullah Pramudya yang dikabarkan merupakan salah satu korban tewas) adalah salah satu dari 12 WNI di kapal Mavi Marmara yang diserbu Israel.
Sebelum penyerbuan itu, Santi sempat mengirimkan surat elektronik yang sangat menyentuh.


Berikut tulisannya :


Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.
(ket. satu hari sebelum serangan Israel).

Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti bergerak karena sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi kapal dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza.
Kami masih menanti, masih tidak pasti, sementara berita berbagai ancaman Israel berseliweran.

Ada banyak cara untuk melewatkan waktu – banyak di antara kami yang membaca Al-Quran, berzikir atau membaca.
Ada yang sibuk mengadakan halaqah.
Beyza Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab untuk peserta Muslimah Turki.
Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang ahli hadist, Dr Usama Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-Nawawiyah secara singkat dan berjanji bahwa para peserta akan mendapat sertifikat.

Wartawan sibuk sendiri, para aktivis – terutama veteran perjalanan-perjalan an ke Gaza sebelumnya – mondar-mandir; ada yang petantang-petenteng memasuki ruang media sambil menyatakan bahwa dia "tangan kanan" seorang politisi Inggris yang pernah menjadi motor salah satu konvoi ke Gaza.


Activism

Ada begitu banyak activism, heroism. Bahkan ada seorang peserta kafilah yangmengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya bertuliskan "Heroes of Islam" alias "Para Pahlawan Islam."
Di sinilah terasa sungguh betapa pentingnya menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah Ta'ala.

Yang wartawan sering merasa hebat dan powerful karena mendapat perlakuan khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta lain tidak.
Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza.

Kalau dibiarkan riya akan menyelusup, na'udzubillahi min dzaalik, dan semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena menjadi sumber amarah Allah Ta'ala.


Mengerem

Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan kegelisahan memikirkan pekejaan menyita kesempatan untuk duduk merenung dan tafakkur, sungguh perlu bagiku untuk mengerem dan mengingatkan diri sendiri.
Apa yang kau lakukan Santi? Untuk apa kau lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau berlindung kepada Allah dari ketidakikhlasan dan riya?
Kau pernah berada dalam situasi ketika orang menganggapmu berharga, ucapanmu patut didengar, hanya karena posisimu di sebuah penerbitan? And where did that lead you?
Had that situation led you to Allah, to Allah's blessing and pleasure, or had all those times brought you Allah's anger and displeasure?

Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di sini.
Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak banyak berbicara selain sibuk membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang dan malam pada waktunya.
Dari para ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.

Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena ketenaran mereka.

Semua berteriak, "Untuk Gaza!" namun siapakah di antara mereka yang teriakannya memenangkan ridha Allah?
Hanya Allah yang tahu.


Gaza Tak Butuh Aku

Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku.
Gaza tidak membutuhkan aku.
Palestina tidak membutuhkan aku.

Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah.
Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah.
Bila Allah mau, sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha.
Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.

Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak - betapa pun sedikitnya - menolong agamaNya.
Menolong membebaskan Al-Quds.

Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha. Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!

Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.


Cara Allah Mengingatkan

Aku berusaha mengingatkan diriku selalu.
Namun Allah selalu punya cara terbaik untuk mengingatkan aku.

Pagi ini aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekedarnya - karena tak mungkin mandi di tempat dengan air terbatas seperti ini, betapa pun gerah dan bau asemnya tubuhku.

Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata toilet jongkok yang dioperasikan dengan sistem vacuum seperti di pesawat itu dalam keadaan mampheeeeet karena ada dua potongan kuning coklaaat menyumbat lubangnya!
Apa yang harus kulakukan?
Masih ada satu bilik dengan toilet yang berfungsi, namun kalau kulakukan itu, alangkah tak bertanggung- jawabnya aku rasanya?
Kalau aku mengajarkan kepada anak-anak bahwa apa pun yang kita lakukan untuk membantu mereka yang fii sabilillah akan dihitung sebagai amal fii sabilillah, maka bukankah sekarang waktunya aku melaksanakan apa yang kuceramahkan?

Entah berapa kali kutekan tombol flush, tak berhasil.
Kotoran itu ndableg bertahan di situ.
Kukosongkan sebuah keranjang sampah dan kuisi dengan air sebanyak mungkin – sesuatu yang sebenarnya terlarang karena semua peserta kafilah sudah diperingatkan untuk menghemat air - lalu kusiramkan ke toilet.

Masih ndableg.
Kucoba lagi menyiram
Masih ndableg.
Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan tanganku sendiri

Kubungkus tanganku dengan tas plastik.
Kupencet sekali lagi tombol flush.
Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan kiriku ke lubang toilet.

Blus!
Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa entah kemana

Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa tak bersih.
Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku.

Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi - agar aku berendah-hati, agar aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi.

Allahumaj'alni minat tawwabiin
Allahumaj'alni minal mutatahirin
Allahumaj'alni min ibadikassalihin


29 Mei 2010, 22:20

Santi Soekanto,
Ibu rumah tangga dan wartawan yang ikut dalam kafilah Freedom Flotilla to Gaza Mei 2010

Kamis, 23 Juli 2009

Ummu Ruman Seorang Bidadari Surga


Wanita ini bernama Zainab atau biasa disebut Di’din. Tapi ia lebih sering dipanggil dengan laqab (nama panggilan) Ummu Ruman. Wanita ini anak perempuan dari Amir bin Uwaimir bin Abdullah Syams bin ‘Iqab. Nasabnya berakhir di Kinanah.

Ummu Ruman tinggal di wilayah yang bernama As-Sirat, yaitu sebuah dataran berkontur pegunungan dan berbukitan di Jazirah Arabia. Ketika sampai usia akil balig, ia dinikahkan dengan pemuda sedesanya yang bernama Harits bin Sakhbarah bin Jurtsumah Al-Kaher. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putra yang diberi nama Ath-Thufail.

Kemudian Ummu Ruman dan anaknya, Ath-Thufail, dibawa Harits pindah ke Makkah. Di Makkah, keluarga kecil ini tinggal dan mendapat perlindungan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. Sayang, Harits tidak dikarunia Allah swt. dengan umur panjang. Ia meninggal setelah setahun tinggal di Makkah. Abu Bakar kemudian menikahi Ummu Ruman dan merawat Ath-Thufail. Ummu Ruman pun menjadi istri kedua Abu Bakar.

Dari istri pertamanya, Abu Bakar memiliki dua orang anak, yaitu Asma dan Abdullah. Dari pernikahan dengan Ummu Ruman, Abu Bakar pun mendapat dua orang anak, yaitu Aisyah dan Abdurrahman. Selisih usia Asma dan Aisyah sepuluh tahun. Ummu Ruman menyatukan Ath-Thufail, Asma, Abdullah, Aisyah, dan Abdurrahman dalam asuhannya.

Ummu Ruman masuk Islam ketika Abu Bakar masuk Islam. Jadi, ia termasuk salah satu as-sabiqunal awwalun (kelompok pertama yang masuk Islam). Seluruh anak-anaknya mengikuti jejaknya masuk Islam, kecuali Abdurrahman. Dengan begitu, rumah Ummu Ruman adalah rumah kedua yang berada dalam naungan Islam setelah rumah Rasulullah saw.

Berbagai macam siksaan yang dilakukan kafir Quraisy kepada kaum muslimin di Makkah juga menimpa diri Ummu Ruman. Apalagi ia aktif bahu-membahu dengan suaminya, Abu Bakar, menyelamatkan orang-orang yang telah memeluk Islam ketika itu dari gangguan kafir Quraisy.

Sebagai ibu, Ummu Ruman sangat disiplin dan berhasil mendidik anak-anaknya. Sebagai seorang istri, ia sangat menghormati hak-hak suaminya. Dan, ia adalah seorang wanita yang menepati janji lagi bijak bestari. Sifat-sifat mulia itu terekam dalam peristiwa Rasulullah saw. meminang Aisyah.

Muhammad bin Amr menceritakan kepada kami. Ia berkata, Abu Salamah dan Yahya menceritakan kepada kami, ketika Khadijah telah meninggal dunia, Khaulah binti Hakim –istri Utsman bin Mazh’un—datang menemui Rasulullah saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, tidakkah engkau menikah lagi?” Beliau berkata, “Dengan siapa?” Khaulah berkata, “Apabila engkau mau, engkau dapat menikahi seorang gadis, atau seorang janda.” Beliau bertanya, “Siapakah gadis tersebut?” Khaulah menjawab, “Putri hamba Allah Azza wa Jalla yang paling engkau cintai di muka bumi, Aisyah binti Abu Bakar.” Beliau bertanya lagi, “Lalu siapakah janda tersebut?” Khaulah menjawab, “Saudah binti Zam’ah. Ia telah beriman kepadamu dan mengikuti segala yang engkau ucapkan.” Rasulullah berkata, “Kalau begitu pergilah kepada keduanya, dan sebutkan namaku kepada mereka.”

Khaulah kemudian datang ke rumah Abu Bakar, dan ketika masuk ia berkata, “Wahai Ummu Ruman, kebaikan dan keberkahan apakah yang dicurahkan Allah Azza wa Jalla kepada kalian?” Ummu Ruman bertanya, “Apakah itu?” Khaulah menjawab, “Rasulullah saw. mengutusku meminang Aisyah untuk beliau.” Ummu Ruman berkata, “Kalau begitu, tunggulah sampai Abu Bakar pulang.”

Setelah Abu Bakar tiba, Khaulah menyampaikan maksud Rasulullah saw. Setelah mendengan kabar itu, Abu Bakar berkata, “Tunggu sebentar.” Abu Bakar pun keluar rumah. Ummu Ruman berkata kepada Khaulah, “Sesungguhnya Muth’im bin Ady pernah menyebutkan nama Aisyah di hadapan putranya, dan demi Allah, Abu Bakar tidak pernah menjanjikan sesuatu lalu melanggarnya.”

Abu Bakar pergi menemui Muth’im bin Ady. Ternyata Muth’im menarik kembali ucapannya karena khawatir anaknya masuk Islam. Setelah itu, Abu Bakar berkata kepada Khaulah, “Panggillah Rasulullah saw. kemari.” Khaulah pun pergi menjemput Rasulullah saw. Tak lama kemudian Abu Bakar menikahkan Rasulullah saw. dengan putrinya, Aisyah, yang ketika itu berusia 6 tahun.

Tak lama setelah pernikahan itu, Rasulullah saw. mendapat perintah untuk berhijrah. Abu Bakar diminta Rasulullah saw. mendampingi. Abu Bakar segera menyampaikan hal itu kepada isterinya, Ummu Ruman. Berita itu tidak membuat Ummu Ruman takut, meski ia harus tetap tinggal di Makkah bersama dengan anak-anaknya di bawah ancaman mara bahaya yang mungkin terjadi. Ummu Ruman justru berkata, “Sesungguhnya keluarga Rasulullah saw. harus menjadi teladan kita.”

Setelah Abu Bakar berangkat mendampingi Rasulullah saw. menuju Madinah, Ummu Ruman tetap melakukan tugas dan perannya seperti biasa. Tak lama kemudian ia menyusul hijrah ke Madinah bersama keluarganya dan keluarga Rasulullah saw., Fathimah, Ummu Kaltsum, Saudah, Zaid bin Haritsah, Abu Rafi’, hamba sahaya Rasulullah saw., Abdullah bin Ariqazh yang diutus Nabi untuk membawa mereka semua ke Madinah. Thalhah bin Abdullah pun turut serta dalam kafilah ini.

Ketika tiba di Madinah, Ummu Ruman berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Bakar, tidakkah engkau mengingatkan Rasulullah saw. tentang perkara Aisyah?” Maka Abu Bakar segera berangkat menemui Rasulullah saw. dan berkata kepadanya, “Tidakkah engkau ingin menggauli keluargamu, ya Rasulullah?”

Kisah selanjutnya Aisyah sendiri yang menceritakannya. Aisyah r.a. berkata, “Nabi Muhammad saw. menikahiku pada saat aku berusia 6 tahun. Kami kemudian pergi ke Madinah dan tinggal di kediaman Bani Harits bin Khazraj, ketika itu saya tidak enak badan dan rambut pun rontok. Ibuku –Ummu Ruman—kemudian mendatangiku yang ketika itu aku berada di sebuah ayunan bersama teman-temanku. Ia kemudian memanggilku. Aku pun mendatanginya meski tidak tahu apa yang ia inginkan dariku.

Ia kemudian memegang tanganku dan menghadangku di pintu rumah, hingga aku mulai merasa tidak tenang. Ia kemudian mengambil sesuatu dari air dan mengusapkannya pada wajah dan kepalaku. Ia kemudian memasukkanku ke sebuah rumah yang sudah dipenuhi wanita-wanita Anshar. Mereka berkata, ‘Dengan segala kebaikan dan keberkahan, dan rezeki yang baik.’ Ia kemudian menyerahkanku kepada mereka dan segera mendandaniku, dan hal ini tidak membuatku merasa takut kecuali kedatangan Rasulullah saw. Mereka kemudian menyerahkanku kepada beliau, dan ketika itu aku berusia 9 tahun.” (HR. Bukhari dalam Kitab Manaqib, hadits nomor 3605)

Hubungan Rasulullah saw. dan Aisyah mendapat cobaan yang begitu dahsyat. Peristiwa ini juga berat dirasakan oleh Ummu Ruman, ibu Aisyah. Pada tahun keenam Hijriah, kaum munafikin menghembuskan fitnah yang menyerang kehormatan dan kemuliaan Aisyah. Ketika pulang dari memerangi Bani Musthaliq, Aisyah tertinggal rombongan Rasulullah saw. Ada seorang sahabat menemukan Aisyah dan mengantar pulang ke Madinah.

Sesampai di Madinah Aisyah sakit. Ia meminta izin kepada Rasulullah saw. untuk dirawat di rumah ibunya, Ummu Ruman. Ketika itu sebenarnya sang ibu telah mendengar fitnah yang dihembuskan oleh kaum munafikin terhadap kesucian Aisyah. Ia berusaha menyembunyikan kabar itu dari anaknya.

Dari Masruq bin Ajda’ berkata, Ummu Ruman menceritakan kepadaku seraya berkata, ‘Ketika kami sedang duduk bersama Aisyah, tiba-tiba masuk seorang wanita Anshar dan berkata, “Semoga Allah melakukan yang demikian terhadap fulan!” Ummu Ruman kemudian berkata, “Siapakah orang itu?”

Wanita tersebut berkata, “Ia adalah putraku yang menceritakan desas-desus itu.” Ummu Ruman bertanya, “Apakah desas-desus tersebut.” Wanita itu pun menceritakan isu yang merebak di tengah kota berupa tuduhan terhadap Aisyah r.a. Aisyah kemudian berkata, “Apakah Rasulullah saw. telah mendengar berita tersebut?” Ia berkata, “Ya.” Ia bertanya, “Dan Abu Bakar?” Wanita itu menjawab, “Ya.” Mendengar itu, Aisyah pun jatuh pingsan.

Ketika sadar, Aisyah menemukan dirinya didera demam yang sangat tinggi. Saya –Ummu Ruman—lalu menghamparkan pakaiannya untuk menutupi tubuhnya.”

Tak lama kemudian Rasulullah saw. datang dan bertanya, “Bagaimana kondisi orang ini?” Ummu Ruman menjawab, “Ya Rasulullah , dia didera demam yang sangat tinggi.” Beliau berkata, “Mungkin saja karena desas-desus yang terkait dengan dirinya.” Ummu Ruman menjawab, “Ya.”

Aisyah kemudian duduk dan berkata kepada Rasulullah saw., “Kalaupun aku bersumpah, engkau tidak akan mempercayaiku. Dan bila aku mengatakannya, niscaya engkau tidak akan memaafkanku. Perumpamaan diriku dan dirimu bagaikan Ya’qub dan anak-anaknya yang berkata, ‘Dan Allah Maha Penolong atas apa yang kalian ceritakan.’”

Ummu Ruman berkata, “Beliau kemudian keluar dan tidak mengatakan apapun hingga Allah menurunkan firmanNya tentang kesucian Aisyah. Aisyah kemudian berkata, ‘Segala puji hanya untuk Allah semata, dan bukan pujian untuk seorang pun, juga tidak untuk dirimu.” (HR. Bukhari dalam Kitab Maghazi, hadits nomor 3828).

Setelah peristiwa itu, di tahun keenam Hijriah itu juga, Ummu Ruman wafat karena sakit yang dideritanya. Rasulullah saw. ikut turun ke dalam kuburannya dan berdoa di sana. Beliau berkata, “Barangsiapa yang ingin melihat wanita bidadari surga, hendaklah melihat Ummu Ruman.”
sumber: Al Hadits